Ayat Hari Ini:

Monday, December 21, 2009

Nuh (3): Natal di Bahtera

Natal yang dimaksud di sini bukan kelahiran Tuhan Yesus. Karena Tuhan Yesus hanya lahir sekali menjadi manusia di Betlehem, dan bukan di bahtera Nuh. Jadi kelahiran seperti apa yang terjadi di bahtera Nuh? Siapa yang lahir di sana? Atau mungkin lebih tepat, apa yang lahir? Adakah perayaan natal (kelahiran) di sana?

11 Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit.
Kejadian 7:11
13 Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. 14 Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering.
Kejadian 8:13-14


Kalau kita memperhatikan umur Nuh dan tanggal yang disebutkan oleh Alkitab dimulai dengan Nuh masuk ke dalam bahtera sampai surutnya air dari bumi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa Nuh berada di dalam bahtera kurang lebih satu tahun. Pasti banyak hal yang terjadi dalam satu tahun di dalam bahtera. Alkitab memang tidak menceritakan apa-apa. Tapi, ada hal-hal yang bisa kita tafsirkan dari data-data yang diberikan Alkitab.

Di dalam satu tahun itu pasti terjadi beberapa kelahiran dari binatang-binatang yang masuk dalam bahtera. Alasannya, selain ada beberapa binatang yang bisa cepat untuk reproduksi, dalam Kej 8:20 beberapa dari binatang itu ada yang dipersembahkan sebagai korban. Kalau tidak ada yang dilahirkan dalam bahtera, maka binatang-binatang yang yang tidak haram yang dikorbankan itu sudah punah (atau sisa yang betina yang kemudian hari akan punah), karena mereka hanya sepasang2 dan yang dipersembahkan biasanya yang jantan.

Kelahiran binatang peliharaan di zaman dulu biasanya memberikan sukacita yang besar bagi pemiliknya. Entah merasa punya anggota keluarga baru (?) ataupun merasa mendapatkan tambahan harta yang bisa dijual atau diberdayakan. Bagaimana dengan kelahiran binatang2 yang dibawa Nuh di dalam bahtera? Harusnya juga memberikan kegembiraan bagi Nuh dan keluarganya yang berada dalam kengerian karena melihat air bah dan kematian massal, serta mungkin juga kegembiraan karena selamat dari kematian massal itu.
Kelahiran seharusnya membuat Nuh dan keluarganya melihat dan merenungkan soal kesempatan baru yang diberikan. Ditengah kematian massal seluruh bumi, masih ada harapan dengan adanya kelahiran.

Kelahiran Yesus Kristus ke dunia mempunyai kemiripan dengan keadaan yang terjadi di zaman Nuh. Israel dan Palestina di zaman Tuhan Yesus habis mengalami pembantaian karena perang yang dipimpin oleh Dinasti Hasmonean. Pemberontakan-pemberontakan yang masih terjadi terhadap pemerintah Romawi membuat ada banyak orang yang disalibkan. Di tengah keadaan yang sulit dan cerita-cerita kematian, lahirlah Sang Juruselamat.
Bedanya dengan kelahiran binatang di bahtera Nuh, kelahiran Tuhan Yesus (yang justru di kandang binatang) tidak ada yang menyambut dan merayakannya. Kecuali Yusuf dan Maria serta gembala-gembala (itupun karena diberi tahu oleh Malaikat) dan 2 tahun kemudian orang Majus.

Kalau kelahiran binatang sudah membuat manusia disekitarnya bersukacita, apalagi dengan kelahiran manusia. Padahal kelahiran binatang dan manusia pada umumnya di dunia hanya akan menambah kesulitan dan penderitaan bagi sesama manusia.

Bagaimana dengan kelahiran Anak Manusia yang justru datang untuk melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang? Samakah sukacita yang dirasakan oleh orang-orang yang mengenal-Nya waktu berhadapan dengan kelahiran-Nya? Bagaimanakah seharusnya orang-orang percaya menyambut-Nya?
Apakah hanya dengan perayaan-perayaan yang sebenarnya hanya untuk menghibur manusia yang mengikuti perayaan itu dan sedikit sekali menyatakan kemuliaan Allah?
Semoga kemuliaan Allah selalu terpancar di dalam Ibadah Natal meski yang terlihat oleh manusia sepertinya hanya kehinaan Anak Manusia yang lahir di kandang hina di Betlehem. Selamat Natal..

Monday, December 14, 2009

Nuh (2): Tiga Cara Melawan Dosa

Dosa tidak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Termasuk dalam kehidupan orang percaya, pergumulan melawan dosa menjadi salah satu bagian pegumulan yang sulit untuk dihadapi.Mampukah manusia melawan dan mengalahkan dosa, yang dari awal bumi ini diciptakan sudah masuk dan merusak seluruh aspek kehidupan?
Cerita dan kehidupan Nuh setidak-tidaknya mengajarkan tiga cara melawan dosa kepada orang percaya yang sudah menerima anugerah keselamatan.

Pertama: Tepat Sesuai perintah Allah (Kej 6:22)

22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.
Kejadian 6:22

Kebanyakan orang berpikir bahwa dosa bisa dilawan dengan perbuatan baik. Semakin banyak perbuatan baik akan semakin membuat dosa jadi lebih berkurang. Kenyataannya, perbuatan yang dianggap baikpun ternyata bisa juga hanya menambah dosa. Karena permasalahannya adalah, bagaimana kita bisa tahu bahwa perbuatan baik itu adalah perbuatan yang benar dan berkenan kepada Allah?

Nuh mengajarkan sesuatu yang melampaui perbuatan baik, yaitu melakukan tepat sesuai perintah Allah. Kata dosa yang paling menonjol di dalam bahasa aslinya, baik bahasa Ibrani maupun Yunani, mempunyai pengertian meleset dari sasaran. Jadi, cara terbaik untuk melawan dan mengalahkannya dengan melakukan yang tepat sasaran; melakukan dengan tepat sesuai dengan perintah Allah.
Kalau hanya sekedar melakukan perbuatan2 baik, tidak membereskan dosa. Tapi, dengan melakukan tepat sesuai dengan perintah Allah bisa mengembalikan arah dan tujuan yang benar dan seharusnya.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, bagaimana kita bisa tahu yang tepat sesuai dengan perintah Allah? Jawabannya, ada di dalam Alkitab. Bukankah perlu penafsiran? Belajarlah menafsirkan dengan benar dan tepat, dan percaya bahwa ada pekerjaan Allah Roh Kudus yang akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran.

Kedua: Ingat Tuhan, Bersyukur, Persembahan (Kej 8:20)
20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Kejadian 8:20

Membayangkan Nuh yang keluar dari bahtera sesudah air bah, seharusnya banyak hal dalam pikirannya yang berkecamuk. Nuh seharusnya menanyakan kepada Allah apa yang harus diperbuat dengan bumi yang kosong, modalnya mana dan harus kerja apa, jaminannya apa bahwa tidak akan terjadi lagi air bah dan ia tidak kehilangan pekerjaan lagi?! Tapi, respon Nuh ternyata berbeda.

Nuh lebih memikirkan Tuhan dibandingkan diri dan kebutuhannya, bahkan ia mempersembahkan binatang yang seharusnya bisa menjadi modal baginya untuk berusaha di bumi yang baru. Nuh memulai dengan ucapan syukur dan memberikan persembahan; mengajarkan kepuasan kepada Tuhan untuk hidup dan kesempatan yang diberikan-Nya.

Mengingat Tuhan, puas, bersyukur dan bahkan memberikan persembahan adalah cara lain untuk mengalahkan dosa! Iblis dan manusia pertama jatuh dalam dosa karena ketidakpuasan dan menginginkan yang lebih dari seharusnya. Dan Iblis terus bekerja membuat manusia tidak pernah bisa puas dengan hidup dan bahkan anugerah yang sudah Tuhan beri. Hanya dengan mengingat Tuhan, puas kepada-Nya dan bahkan memberikan persembahan, akan membuat kita melihat bahwa anugerah yang Tuhan beri sudah terlalu banyak dibandingkan dengan seharusnya hukuman yang harus kita terima. Hal ini akan membuat godaan dosa tidak terlihat lebih besar dibandingkan dengan anugerah dan berkat2 dari Tuhan.

Ketiga: Keteraturan (Kej 8:22)
22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
Kejadian 8:22

Bayangkan kalau dalam satu sekolah, seluruh murid dan guru dibiarkan bebas melakukan apa yang diinginkan mereka masing-masing. Tidak ada aturan, tidak ada keteraturan dan ketertiban. Apakah yang akan terjadi?

Dari awal mencipta bumi ini, Tuhan memberikan keteraturan. IA membuat semuanya indah karena ada keteraturan. Tapi, ketika dosa masuk menghancurkan tatanan yang ada dan berusaha merusak semuanya. Dosa membuat seolah-olah keteraturan menjadi keterikatan dan pengekangan atas kebebasan. Itu sebabnya, kebebasan yang tak terkendalikan membuat bumi ini makin hari makin rusak dan hancur.

Sebenarnya kalau manusia bisa hidup dalam keteraturan yang sudah dirancang Tuhan akan membuat manusia bisa menikmati keindahan anugerah Tuhan dan bahkan kebebasan yang sejati. Kebebasan yang bukan berdasarkan pemberontakan karena mengikuti nafsu yang berdosa, tapi kebebasan menikmati hidup untuk memuliakan dan menikmati Allah. Hidup manusia sudah dirancang Tuhan untuk ada dalam keteraturan yang harus berulang setiap hari, minggu, bulan, tahun. Sekalipun berulang, tetap ada keindahan yang berbeda hari demi hari. Jikalau kita bisa melihat keindahan dalam keteraturan, maka tidak ada tempat untuk pemberontakan kepada Allah demi kebebasan yang palsu.

Kegagalan Nuh
Sekalipun Nuh yang dikatakan orang benar dan tidak bercela dapat kesempatan yang baru dalam bumi yang baru dan mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi dan mengalahkan dosa, tetapi bukan berarti Nuh tidak pernah gagal dan berdosa.
Kejadian 9:18-27 menceritakan kegagalan Nuh karena mabuk berkat. Nuh mabuk oleh anggur hasil kebunnya dan telanjang. Karena perbuatan Nuh ini membuat Ham anaknya berdosa dan dikutuk oleh Nuh.

Nuh mengulang cerita lama kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia berdosa bukan karena kekurangan, tapi dalam kelimpahan berkat. Dalam kelimpahan manusia bisa lupa diri dan mabuk dengan segala berkat pemberian Allah. Itu sebabnya, orang percayapun dalam segala kelimpahan anugerah Allah masih bisa berdosa dan bahkan banyak yang lupa diri dan berdosa.

Semoga anugerah dan berkat2 Allah yang terus berkelimpahan dalam hidup ini membuat kita makin bisa melihat apa yang Tuhan kehendaki, sehingga kita bisa makin peka melakukan apa yang tepat sesuai dengan perintah Allah, terus mengingat-Nya, puas dan bersyukur kepada-Nya, mepersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya dan menikmati kebebasan dalam keteraturan yang sudah dirancangkan-Nya. Soli Deo Gloria.

Friday, December 11, 2009

Nuh (1): Orang Benar!

Indonesia sekarang ini sedang dalam pergumulan untuk mencari orang-orang benar dalam pemerintahan. Aparat dan penegak hukum sudah terlanjur mendapatkan cap 'tidak benar'; begitu juga dengan pemerintah. Masyarakat sudah terlalu muak dengan korupsi dan 'ketidakadilan' yang terjadi di Indonesia.
Sulit sekali untuk mencari orang benar dalam seluruh aspek hidupnya. Karena orang bisa benar dalam satu atau dua aspek hidupnya, tapi tidak dalam keseluruhan hidupnya. Mungkinkah masih ada orang benar di tengah dunia yang berdosa ini?

7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." 8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. 9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
Kejadian 6:7-9


Kejadian 6 menggambarkan keadaan bumi yang sudah terlalu berdosa dan kesedihan dan kemarahan Tuhan yang begitu besar, yang membuat Tuhan memutuskan untuk menghapuskan manusia dan binatang dari muka bumi.

Tapi, di ayat 8 dikatakan bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Dari ayat ini, kita bisa mengerti bahwa Tuhanlah yang menganugerahkan dan mempertahankan orang benar di bumi. Sebagian orang salah melihat, mereka berpikir orang harus hidup benar baru kemudian Tuhan akan memperhatikan mereka. Dalam kasus Nuh ternyata berbeda. Tuhan memberikan kasih karunia kepadanya, baru kemudian cerita tentang Nuh sebagai orang benar dimulai. Tanpa anugerah Tuhan, tidak akan pernah ada orang benar di bumi ini. Manusia terlalu jahat dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5)

Orang Benar
Nuh disebutkan sebagai orang benar (tsaddiyq). Kata benar ini dalam bahasa aslinya mengacu kepada standar etika dan moral. Tuhan memberikan anugerah kepada Nuh untuk memiliki standar etika dan moral yang berpusat kepada-Nya, berbeda dengan manusia lain di bumi waktu itu yang hanya mempergunakan standar berdasarkan nafsu dan kepentingan bersama. Itu sebabnya Nuh benar di mata Tuhan, sekalipun bagi orang-orang sezamannya, Nuh pasti dibenci dan dianggap aneh. Hari gini lo, ko standarnya beda?

Ketika standar moral hanya berpusat kepada manusia dan untuk kepentingan manusia yang semuanya berdosa, maka jangan berharap akan ada keadilan dan kebenaran sepanjang masa di bumi ini. Standar itu bisa kelihatan benar bagi suatu kelompok di waktu tertentu, tapi bisa menjadi salah di waktu yang berbeda dan untuk orang yang berbeda.

Kebenaran dan keadilan yang sejati hanya bersumber dan berpusat kepada Tuhan. karena Ia-lah yang menganugerahkan keadilan dan kebenaran serta orang2 benar itu sendiri. Maka, kita hanya bisa meminta Tuhan bukakan lagi lebih banyak kebenaran dan keadilan yang berdasarkan firman-Nya dan menganugerahkan lebih banyak orang benar yang mau hidup berdasarkan firman-Nya.

Tidak Bercela
Nuh ternyata bukan hanya diberikan konsep dan standar yang benar, tapi juga diberi anugerah untuk hidup sesuai dengan konsep yang dianugerahkan kepadanya. Kata tidak bercela,dalam bahasa aslinya, tamim, bisa berarti integritas dan bahkan bisa berarti sempurna. Maksudnya, standar etika dan moral yang dimiliki itu dilakukan dan dihidupi dalam seluruh aspek hidupnya.

Hidup berintegritas tentu saja lebih sulit dibandingkan dengan hanya memiliki konsep kebenaran dan keadilan. Hidup seperti ini tidak bisa didapatkan hanya dalam satu-dua tahun melalui pendidikan. Hidup berintegritas didapat selain dari anugerah Allah, butuh tanggung jawab manusia hari demi hari untuk mencocokan hidupnya dengan kebenaran2 firman.
Tidak mungkin orang bisa hidup berintegritas, kalau tidak ada kebenaran firman yang mengubahnya konsepnya tiap hari dan kalau tidak ada pergumulan setiap hari melakukan kebenaran firman.

Bergaul dengan Allah
Nuh bisa menjadi orang benar dan tidak bercela, karena selain mendapatkan kasih karunia Allah, ia ternyata bergaul dengan dengan Allah. Dari sisi tanggung jawab manusia, Nuh tidak hanya menikmati anugerah yang Tuhan berikan kepadanya dan terus berharap Tuhan yang akan menolong dan menguatkannya. Nuh ternyata memanfaatkan kasih karunia yang diberikan kepadanya dengan hidup bergaul dengan Allah. Tanpa hidup bergaul dengan Allah, Nuh mendapatkan kesulitan yang sangat besar dizamannya. Karena hidup sehari-harinya hanya melihat kejahatan dan ketidakadilan yang sudah menjadi budaya dan kebiasaan waktu itu.

Hanya bergaul dengan Allah yang membuat Nuh tetap bisa fokus melihat kebenaran dan keadilan yang sejati. Hanya bergaul dengan Allah juga yang membuat Nuh dimampukan untuk hidup berintegritas dan memanfaatkan semua kasih karunia yang disediakan Tuhan baginya.

Orang percaya mendapatkan anugerah untuk menjadi orang benar dan tidak bercela. Karena pilihan ini sudah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Orang percaya juga mendapatkan anugerah untuk bisa beribadah dan bergantung setiap saat kepada Tuhan. Adakah kita mempergunakan setiap kesempatan dan anugerah itu? Hidup sebagai orang benar dan berintegritas dan bergaul dengan Allah. Apakah orang-orang disekitar kita bisa melihat bahwa kita berbeda, karena kita orang benar, hidup berintegritas dan bergaul dengan Allah?