Ayat Hari Ini:

Sunday, December 26, 2010

Anugerah yang Terlupakan

Kelahiran Kristus bagi setiap orang bisa berbeda artinya. Ada yang melihatnya sebagai kabar sukacita, ada yang melihat sebagai ancaman, ada yang mengerti tapi melupakan begitu saja, dan masih banyak lagi yang sulit disebutkan semuanya satu-persatu.
Kelahiran Kristus adalah anugerah bagi manusia. Karena Allah datang untuk membereskan dosa manusia dan membawa kerajaan Sorga. Bagaimana manusia meresponi anugerah yang Tuhan sudah berikan?

1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." 3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. 5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Matius 2:1-5


Jauh tapi Tahu
Orang-orang Majus dari Timur datang untuk menyembah Raja orang Yahudi. Agak aneh, karena mereka bukan orang Yahudi tapi mengapa mereka mau datang untuk menyembah raja orang Yahudi?

Ada anugerah yang bekerja dalam hidup para orang Majus, membuat mereka datang untuk menyembah raja diatas segala raja. Karena anugerah yang luar biasa berharga, maka mereka datang mencari-Nya untuk sujud menyembah-Nya dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Anugerah itu dilihat oleh orang-orang Majus sebagai kesempatan untuk bisa menikmati sukacita tertinggi. Mereka menemukan-Nya dan di ayat 10 mengatakan bahwa mereka bersukacita. Bagaimana dengan kita?

Kita tidak perlu lagi ke Betlehem untuk bertemu, menyembah dan membawa persembahan kepada Kristus. Kristus sudah naik ke Surga. Setiap kali Natal, adakah kerinduan yang sama seperti orang Majus yang ingin bertemu sang Raja? Adakah kerinduan untuk segera pergi ke Surga untuk menyembah dan membawa persembahan kepada Sang Raja? Atau kebalikannya? Hanya mau sang Raja memberikan hidup yang lebih baik, lebih sukses dan sehat senantiasa?

Dekat tapi Kaget
Herodes yang tinggal di Yerusalem, lebih dekat ke Betlehem bila dibandingkan dengan orang Majus malahan memiliki respon yang jauh berbeda. Ia kaget karena ada raja baru yang menjadi saingannya. Ia sangat ingin mengetahui ancaman yang akan datang itu. Dan ia menemukan-Nya. Herodes bukan orang Yahudi, sama seperti para orang Majus. Tapi, ia seharusnya memiliki kesempatna yang lebih besar untuk menikmati anugerah dari Tuhan. Ternyata yang dilihatnya bukan anugerah, tapi ancaman.

Ketika mengetahui berita tentang Raja Yahudi, Herodes tidak ikut bersama orang Majus ke Betlehem dan menyembah-Nya. Ia mengutus orang ke Betlehem untuk membunuh sang Raja. Anugerah bagi manusia dan Herodes sangat beruntung karena mengetahui yang tidak diketahui orang Majus, tapi justru kebencian, kepanikan yang mengakibatkan pembunuhan anak2 yang berumur dua tahun ke bawah di Betlehem.

Seringkali anugerah yang membebaskan justru dianggap akan merampas kebebasan kita untuk berdosa. Lebih parah lagi, sang Raja dianggap ingin mengambil alih posisi kita sebagai raja untuk hidup kita. Kita ingin mengontrol semuanya dan tidak ingin dikuasai oleh siapapun, kecuali terpaksa. Padahal sang Raja ketika menjadi raja dalam kehidupan kita, justru membebaskan kita dari dosa, memberi kita kesempatan untuk memerintah dan mengatur hidup dengan benar berdasarkan hikmat dan anugerah-Nya. Apakah sang Raja ancaman buat manusia? Ya, kalau manusia ingin tetap berdosa!

Anugerah yang Terlupakan
Imam Kepala dan ahli2 Taurat seharusnya lebih beruntung bila dibandingkan dengan orang Majus dan Herodes. Mereka tahu nubuat tentang Mesias. Mereka mungkin sudah hafal semua ayat-ayat yang berbicara tentang Mesias. Sayang sekali hampir dua tahun, sang Mesias sudah datang ke dunia, tapi mereka melupakan-Nya.

Mungkin terlalu banyak tugas yang harus mereka kerjakan, sehingga mereka melupakan kedatangan Mesias. Bahkan ketika sudah diberitahukan oleh orang Majus, mereka tidak ikut ke Betlehem dan menyembah Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci. Mereka tahu akan anugerah Allah, tapi mereka sengaja melupakan-Nya demi hal-hal yang menurut mereka lebih berharga.

Banyak orang percaya agak mirip dengan ahli2 Taurat, merasa tahu dan mengerti banyak hal yang berhubungan dengan Kitab Suci, tapi melupakan yang menjadi pusat dari Kitab Suci yaitu Kristus yang adalah anugerah terindah bagi manusia. Kristus hanya diingat ketika kita dalam kesulitan dan perlu berkat dan pertolongan-Nya. Ketika tidak merasa butuh dan bisa kontrol hidupnya dengan bebas, maka dengan cepatnya kita melupakan anugerah yang sudah diberikan.

Biarlah Natal membuat kita makin merindukan bertemu Kristus, karena ingin mempersembahkan kembali segala berkat terbaik yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Membuat kita mengingat kebebasan yang dianugerahkan kepada kita, disertai kesempatan untuk belajar memerintah bersama sang Raja. Dan kita tidak pernah melupakan anugerah yang terindah itu, karena terus-menerus disaksikan kepada dunia. Selamat Natal.

Saturday, December 25, 2010

Gloria in excelsis Deo

Sudah berkali-kali kita mendengar istilah kemuliaan dan memuliakan Allah. Tapi kalau ditanya apa itu kemuliaan dan bagaimana memuliakan Allah, seringkali menjadi sulit untuk menjelaskannya. Begitu juga ketika berhadapan dengan peristiwa Natal di suatu kandang di Betlehem, dimana kemuliaan yang dinyanyikan oleh para malaikat? Apakah para malaikat melihat apa yang tidak dilihat manusia?

14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Lukas 2:14


Dimana kemuliaan itu?
Untuk bisa melihat kemuliaan di Betlehem, maka kita perlu untuk mengerti apa itu kemuliaan. Menurut American Heritage Dictionary, kemuliaan itu bisa berarti: penghormatan/pujian yang luar biasa, keindahan yang luar biasa, bahkan bisa berarti kebahagiaan yang sempurna.

Ketika melihat apa yang terjadi di Betlehem, tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan kalau fokusnya pada keadaan di Betlehem. Karena kemuliaan itu bukan karena keadaan, tapi pada pribadi Allah yang menjadi manusia. Kemuliaan Allah sedang dinyatakan pada seorang bayi yang terlihat seperti bayi kebanyakan, tapi dengan nasib sedikit malang karena lahir di saat yang kurang tepat dan tempat kurang layak. Kalau kita tahu dan kenal sang bayi itu seperti para malaikat yang diciptakan-Nya mengenal-Nya, maka kitapun akan menyanyikan pujian yang sama seperti para malaikat. Kalau kita tahu untuk apa sang Pencipta mau menjadi manusia, mengikuti dan menggenapi kehendak Bapa, maka kitapun akan memuji dan mengembalikan segala kemuliaan bagi-Nya.

Natal adalah Kristus. Kemuliaan Natal ada pada dan hanya di dalam Kristus. Kemuliaan itu tidak bisa digantikan dengan pertemuan keluarga, tukar kado, lagu2 dengan suasana Natal, keadaan Natal yang bersuasana Winter dan perayaan-perayaan yang hanya membawa sukacita palsu. Tanpa pengenalan yang makin bertambah terhadap Yesus Kristus, maka kemuliaan Natal tidak akan makin bisa dikagumi.
Bertambahkah kekaguman kita kepada sang Pencipta yang menjadi manusia setiap kali kita merayakan Natal?

Adakah yang lebih berharga?
Jika kita makin mengerti kemuliaan yang dinyatakan oleh Yesus Kristus, maka kita perlu bertanya, "Adakah yang lebih berharga dibandingkan Kemuliaan Kristus?"

Secara umum manusia hanya terbiasa dengan kemuliaan yang ada di dunia ini, manusia berjuang dan berusaha untuk mendapatkan semua itu. Semua manusia ingin bahagia, ingin dihargai dan ingin mendapatkan jaminan selama hidup di dunia. Itu sebabnya manusia bekerja keras untuk mendapatkan uang, menyimpannya sebagai jaminan hidup, berusaha menghindar dari sakit dan bahaya dan membuat hidupnya bisa dikontrol. Dengan harapan kalau semuanya terjadi, maka hidup akan bahagia. Kalaupun manusia mendapatkan semuanya itu, adakah manusia yang bahagia sampai selamanya karena dapat semua yang diinginkan hatinya?

Kemuliaan Kristus membawa manusia berdamai dengan Bapa, tidak dikejar-kejar perasaan berdosa, dibawa masuk ke dalam kerajaan Sorga dimana Allah yang mengontrol segala sesuatunya. Diberi jaminan baik hidup yang sementara maupun hidup yang kekal. Adakah yang lebih baik, lebih bernilai, lebih berharga dibandingkan dengan apa yang dilakukan Kristus bagi umat-Nya?

Masalah selanjutnya, kalau kita sudah dijamin dapat hidup yang kekal, mengapa kita tidak langsung mati dan menikmati semua kelimpahan dalam Kristus? Bukankah itu lebih baik dibandingkan tetap hidup dalam dunia yang berdosa dan tidak sempurna ini?

Saksi kemuliaan
Siapa yang harus menyatakan dan bersaksi kepada dunia ini, jikalau semua orang yang mengerti akan kemuliaan Kristus sudah bertemu dengan Kristus? Siapa yang harus menyatakan kepada dunia betapa indahnya, betapa agungnya dan berharganya kemuliaan Kristus, kalau bukan orang-orang yang bisa melihat itu lebih berharga dari apapun?
Siapakah yang akan bersaksi dengan sukacita kalau bukan orang-orang yang sudah menikmati sukacita itu?

Natal menyatakan kepada kita kemuliaan yang terlalu tinggi untuk dimengerti manusia, tapi sudah dibawa masuk di dalam kerendahan. Membuat kita bisa terkagum-kagum dan menghargainya lebih dari segala sesuatu. Dan mendorong kita dengan sukacita menunjukan, mengabarkan dan bersaksi kepada dunia. Soli Deo Gloria.

Friday, December 24, 2010

Sudah Siap?

Setiap manusia mempunyai pandangan sendiri untuk apa dia hidup di dunia. Begitu juga dengan pandangan tentang siapa dirinya dan siapa yang menciptakan dirinya.
Bagi orang Kristen meskipun Alkitab memberikan penuntun untuk mengerti semuanya, tapi dalam kenyataan hidup ini banyak orang Kristen tidak mengerti, lupa, atau bahkan kehilangan arah.
Natal, biasanya menjadi salah satu momen yang bisa dipakai untuk mengingatkan tentang siapa yang memberi hidup, untuk apa hidup ini, siapa kita yang diberi hidup, dan sudahkah kita melakukan tugas kita dalam hidup ini.


3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."
Matius 3:3


Untuk Siapa?
Untuk Tuhan! Sederhana, biasa kita dengar, biasa kita ucapkan, tapi biasakah kita melakukannya? Karena banyak hal yang dilakukan orang Kristen yang mengatakan melakukannya untuk Tuhan, kalau ditelusuri dan dipikirkan lebih jauh sebenarnya berpusat kepada diri kita dan keinginan kita. Misalnya, mana yang lebih kita pedulikan: menyenangkan hati Tuhan (dan mungkin menyakitkan hati kita) atau menyenangkan hati kita; menyakitkan hati Tuhan atau menyakitkan hati kita; rencana Tuhan atau rencana kita; jalan Tuhan atau jalan kita? Lebih banyak mana dalam doa-doa kita, bertanya kehendak Tuhan yang harus kita lakukan atau membawa segala kehendak dan keinginan kita?

Yohanes Pembaptis mengerti bahwa hidupnya dipersiapkan oleh Tuhan untuk Tuhan. Itu sebabnya, pusat perhatian dalam hidupnya adalah Tuhan, kehendak-Nya, pertobatan manusia dan Kerajaan Sorga. Dia diberi hidup oleh Sang Pencipta untuk Sang Pencipta itu sendiri, melakukan tugas yang diberikan oleh Sang Pencipta meskipun hanya sebentar dan Yohanes harus jadi korban.
Yohanes Pembaptis hidup untuk Tuhan yang mengasihi dan dikasihinya. Mengapa ia bisa hidup seperti itu, siapakah dia?

Siapa Saya?
Hidup Yohanes Pembaptis adalah hidup yang sangat unik. Lahir melalui keajaiban, berasal dari keluarga imam yang seharusnya membuat ia mendapatkan kehidupan yang sangat layak. Tapi anehnya ia pergi ke padang gurun, memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Kehidupannya terlalu sederhana untuk orang yang berasal dari keluarga yang status sosialnya terpandang. Mengapa ia tidak menjadi imam seperti ayahnya dan menikmati segala fasilitas yang ada? Mengapa ia tidak mengejar banyak hal seperti orang kebanyakan? Panggilan!?

Menunggu 30 tahun (karena dari hukum Taurat sudah ditetapkan untuk para imam yang melayani) dan dipersiapkan selama itu di padang gurun bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi semua orang. Dan ketika waktunya tiba, seluruh potensi, karunia dan energinya dicurahkan untuk menyatakan kehendak Tuhan bagi umat-Nya. Dengan penuh kuasa, ia menarik perhatian banyak orang. Bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya, ia menjadi sangat populer. Terlalu cepat populer, bisa membuatnya lupa siapa dirinya dan tugas dari Penciptanya. Ketika orang banyak bertanya, "Siapa Rabbi muda ini? Messiaskah?"

Jawaban Yohanes menunjukkan ia mengenal siapa dirinya dan siapa yang lebih besar darinya yang harus disaksikannya. Ia menunjuk kepada nubuat nabi Yesaya tentang dirinya yang hanya menyiapkan jalan untuk pribadi yang Agung dan tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Jadi budakpun yang membuka kasut Messias, baginya pun masih tidak layak. Yohanes masih tahu diri.

Di kamar mandi tempat saya tinggal, ada cermin yang besar. Tepatnya, satu2nya cermin yang ada di tempat saya tinggal. Setiap kali mau mandi, ada satu pertanyaan yang selalu muncul, "Siapa saya?"
Kebanyakan orang lupa siapa dirinya dalam segala anugerah, berkat dan kelimpahan yang diberikan Sang Pencipta. Banyak orang lupa bagaimana ia lahir dan tidak tahu bagaimana akan berakhir hidupnya. Kita semua tidak lebih dari budak, yang hanya diberi kesempatan oleh Tuan kita untuk tugas yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Tugas apa?

Untuk Apa?
Membicarakan tugas biasanya bukan sesuatu yang menyenangkan karena yang terbayangkan adalah beban dan sesuatu yang sulit. Tapi berbeda dengan Yohanes, karena hidupnya, dipersiapkan 30 tahun, demi untuk tugas yang harus dilakukan dalam beberapa bulan sebelum hidupnya akan berakhir. Apa tugas Yohanes?

Mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Ia hidup bukan untuk kesuksesan hidupnya. Tapi, ia hidup untuk menyaksikan Penciptanya yang sedang membawa kesuksesan yang bernilai kekal yang jauh lebih tinggi dan indah dibandingkan kesuksesan palsu dan sementara yang ditawarkan oleh dunia. Yohanes hidup biar orang-orang bisa bertobat dan melihat Sang Raja yang membawa Kerajaan Sorga. Yohanes hidup untuk Natal yang sejati, kedatangan sang Raja Sorgawi.

Bagaimana dengan Saya? Untuk apa saya hidup di dunia? Adakah misi khusus? Mengapa saya hidup lebih lama dari Yohanes Pembabptis? Terlalu banyakkah tugas yang harus dilakukan sehingga hidupnya harus lebih lama? Atau belum bereskah yang harus dilakukan sehingga masih harus tetap hidup?

Sudah Siap?
Saya belum siap! Bukan soal kita siap atau tidak siap, tapi jalan Tuhan yang harus dipersiapkan. Kita siap atau tidak siap, tugas harus dilakukan dan diselesaikan. Manusia siap atau tidak, Tuhan tetap datang ke dunia. Setiap tahun, kita siap atau tidak, Natal tetap dirayakan.

Ketika terlalu banyak waktu kita dicurahkan dan dihabiskan untuk menyiapkan diri kita, maka terlalu sedikit waktu dan tenaga untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Kita tidak bisa menyiapkan diri kita, hanya Tuhan yang bisa bekerja, mempersiapkan dan mengubah hidup kita. Tugas kita mengenal dan mengasihi Tuhan kita, mempersiapkan jalan-Nya biar banyak orang bisa melihat kemuliaan-Nya dan memuji kemuliaan-Nya.

Sudah siapkah jalan Tuhan yang harus kita persiapkan? Biarlah banyak orang bisa melihat Sang Raja yang datang membawa kerajaan-Nya. Selamat Natal.